Macau Baccarat Website_Professional betting_Baccarat formula play_Online gambling

  • 时间:
  • 浏览:0

TBBaccarat skills experienceaccarat sBaccarat skills experiencekills experienceapi balik lagi, kamu adalah orang yang santai bin selow. Sebulat apapun tekad kamu sebelumnya, akan pudar seiring waktu yang berputar. Keinginan untuk segera menikah hanya keukeuh di permulaan saja. Sikap kamu yang menanggapi pernikahan teman dengan ikutan nikah juga hanya obsesi sesaat.

Jika punya pacar, maka kamu berpikir kapan ya bagusnya hal ini dibicarakan. Dan seandainya kamu masih sendiri, maka “Gue minta dijodohin aja apa ya?” adalah cara agar kamu bisa segera menyamakan level kehidupan dengan teman-temanmu yang udah naik ke pelaminan.

Lalu kamu? Kamu sih balik selow lagi. Nikmatin aja dulu :))

Tanggapan ini bermula dari sebuah undangan yang dilayangkan padamu. Di sampulnya tertulis dua nama yang bersanding. Temanmu akhirnya menikah! Tentu perasaan pertama yang kamu rasakan adalah bahagia sekaligus terharu. Akhirnya, dia akan melaju ke tahap selanjutnya dan akan bersanding di pelaminan bersama pilihan hidupnya.

Setelah pergolakan dalam hatimu tentang “mereka aja udah nikah, dan gue gini-gini aja” dapat diredam dengan pembenaran-pembenaran tadi, maka nggak ada lagi beban yang kamu rasakan ketika melihat teman-teman udah duluan naik pelaminan. Yang ada hanyalah doa agar mereka menjadi keluarga yang bahagia dan langgeng.

Kamu kembali sadar bahwa pernikahan itu butuh persiapan panjang. Bukan keputusan yang diambil saat perasaan sedang menggebu. Harus ada banyak hal yang dipersiapkan. Dan kamu pun memilih menikmati setiap proses yang berjalan. Nggak terlalu lama dan nggak buru-buru juga.

Kamu jelas ikut bahagia. Nggak bakal ada lagi malam panjang yang harus kamu lewati hanya karena mendengar temenmu curhat karena dibohongin pacar. Kini temanmu itu sudah bisa lebih bahagia bersama pasangannya.

Kebaperanmu itupun melahirkan sebuah tekad bulat, “Aku harus menyusul mereka segera, udah waktunya untukku menikah juga”. Meski itu bisa dianggap jalan pintas, kamu merasa itu adalah sebuah kewajaran. Ketika teman-temanmu udah bersanding di pelaminan, berarti juga saatnya kamu melangsungkan pernikahan.

Pikiranmu seakan kembali “normal”. Kamu akhirnya kembali sadar bahwa pernikahan nggak semudah kelihatannya. Apalagi, menikah bukan dilihat dari umur yang menjadi tolak ukur. Pernikahan berbicara tentang kesiapan kamu dan pasangan. Nggak cuma enaknya aja, kamu akhirnya paham bahwa bersanding di pelaminan bukan akhir dari perjuangan, tapi adalah titik awal menjalani kehidupan baru. Dan kalau dipikir-pikir, kamu belum siap untuk itu. Yah, semacam pembenaran untuk nggak buru-buru menikah