Sejarah Jalu「Football betting app download」r Rempah di Indonesia, Pengaruh Angin Monsun

  • 时间:
  • 浏览:0

FootbFootball betting app downloadall betting app Football betting app downloaddownloadangin monsun mendominasi iklim yang ada di kawasan tersebut. Angin ini berperan menjadi mesin penggerak, pertukaran, pengembangan, dan perputaran pengetahuan.

Ilustrasi nenek moyang pelaut berlayar mengarungi lautan, memanfaatkan angin monsun untuk berlayar dari sub-benua India ke negara-negara di Asia Tenggara. Salah satu jalur rempah yang dimanfaatkan dalam sejarah perdagangan rempah dunia.



KOMPAS.com – Sejak masa pra-kolonial, Nusantara diyakini sudah memiliki peranan penting dalam jalur rempah.

Baca juga: Berapa Lama Rempah Awet Disimpan? dari 6 Bulan sampai 4 Tahun

Menurut Prof. Dr. Iwan Pranoto dari Fakultas Matematika dan Ilmu Alam, Institut Teknologi Bandung (ITB), jalur rempah berkaitan pada penyebaran ilmu pengetahuan.

“(Disebut) Pertukaran karena bukan satu arah. Kalau kita melihat (jalur) rempah atau sutera, kita seperti melihat hanya satu arah. Dari timur ke barat. Tetapi kita tidak pernah melihat bahwa dari barat ke timur juga ada. Salah satu yang memungkinkan itu adalah angin monsun,” jelas Iwan.

Hal itu ia sampaikan dalam webinar International Forum on Spice Route 2020 sesi Redefining the Spice Route through Socio-cultural Interconnectivity, Senin (21/9/2020).

Salah satu penamaan daerah di dunia, menurut Iwan, adalah India Intra Gangem dan India Extra Gangem. Penamaan itu menunjukkan India di dalam area Sungai Gangga dan India di luar Sungai Gangga.

Rempah asal kepulauan Nusantara menjadi komoditas dagang penting saat itu. Konon pedagang eropa datang ke Nusantara untuk mencari rempah.

“Yang kita sudah tahu bahkan rempah atau sutera atau bahan-bahan lainnya itu menjadi komoditas dagang saat itu. Tetapi sebenarnya ada yang lebih mendasar yaitu pengetahuan,” kata Iwan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Pada abad 16, dunia tak seperti sekarang ini. Dahulu pembagian daerah bukan berdasarkan benua yang menunjukkan arah mata angin.

“Pertanyaannya adalah, apa yang memungkinkan terjadi sirkulasi pengembangan dan perputaran ilmu pengetahuan ini,” sambung dia.