Best Baccarat Betting Method_Indonesia Gaming_Roulette Cracking_Baccarat odds

  • 时间:
  • 浏览:0

KBaccarat SupBaccarat Super and Baccarat Super and How to Playhow to Player and How to Playalau dipikir-pikir, sensor seBaccarat Super and How to Playmacam ini malah makin menunjukkan ketakutan orang terhadap belahan dada atau tubuh perempuan ya. Semakin sulit untuk membedakan antara pengetahuan, pornografi, dan erotisme.

Masih ingat sensor yang dilakukan stasiun televisi pada kebaya kontestan Puteri Indonesia? Tentu kamu juga masih ingat dong sama sensor yang juga “menimpa” Sandy Spongebob dan baju renang Shizuka. Sensor yang sangat absurd ini juga menimbulkan reaksi negatif dari banyak pihak, termasuk anak muda.

Tukang catat yang sering dilanda rindu dan ragu

Seperti kamu, Dea — seorang feminis dan mahasiswi Kedokteran Gigi — bertanya-tanya kenapa kebaya harus disensor oleh produser acara Puteri Indonesia. Kemudian, ada yang bilang gaya berbusana seperti itu bukan budaya asli Indonesia. Ini membuat Dea penasaran. dan mencari tahu tentang sejarah berbusana Indonesia dengan kata kunci “foto perempuan Indonesia zaman dahulu”.

Lagipula, apa iya foto sejarah macam gitu bikin orang ngiler dan berfantasi yang bukan-bukan? Keterlaluan banget kalau seperti itu. Harusnya kita berpikir ulang. Dulu saja orang mengganggap hal semacam itu lumrah atau biasa. Mereka tidak mengumbar dada karena sengaja ingin merangsang atau membuat orang yang melihatnya terangsang. Mereka tidak menutup dada karena memang begitulah budaya zaman dulu di beberapa daerah di Indonesia. Dan kita yang sekarang sudah hidup di zaman berbeda (dengan budaya yang berbeda pula), punya foto ini yang terus mengingatkan kita tentang siapa sebenarnya nenek moyang kita zaman dulu.

Tapi ternyata sensor yang absurd nggak hanya ada di televisi saja. Facebook juga melakukannya lho. Beberapa hari yang lalu, salah satu pengguna Facebook bernama Dea Safira Basori di-suspend setelah mengunggah foto-foto perempuan Indonesia zaman dulu yang bertelanjang dada.

Dea sendiri nggak tinggal diam, lalu mengirimkan surel kepada pihak Facebook. Dalam surel ini Dea menjelaskan alasannya memposting foto-foto itu. Pihak Facebook pun sempat merespon dengan mengaktifkan kembali akunnya. Tapi nggak lama, pihak Facebook kembali menangguhkannya — sebelum akhirnya mengaktifkan akun Dea lagi.

Duh, memangnya sekarang foto-foto sejarah Indonesia juga termasuk pornografi ya?